Jumat, 01 November 2013

Kegunaan BEP

Menurut Sofyan Syafri Harahap (1998 : 154 ) kegunaan BEP sebagai berikut :
1. Hubungan antara penjualan biaya dan laba
2. Untuk mengetahui struktur biaya tetap dan variable
3. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan memberikan margin untuk menutupi biaya tetap
4. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi
Sedangkan menurut Syafaruddin Alwi (1994 : 266) analisa break event secara umum dapat memberikan informasi kepada pimpinan, bagaimana pola hubungan anatara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu, sehingga break even dapat membantu pimpinan dalam mengambil keputusan antara lain mengenai :
1. Jumlah minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian
2. Jumlah penjualan yang harus dibayar untuk memperoleh keuntungan tertentu
3. Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi
4. Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh
Tujuan dari pada analisis break event yang digunakan perusahaan adalah untuk :
a. Mengevaluasi tujuan laba dari perusahaan secara keseluruhan
b. Menyajikan data-data biaya dan laba kepada top management
c. Mengganti system laporan yang tebal-tebal dengan suatu grafik yang mudah dibaca dan dimengerti.
Dari beberapa tujuan yang telah dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan analisa break event adalah untuk mengetahui beberapa volume penjualan minimal yang harus dicapai pada tingkat harga tertentu agar supaya perusahaan tidak menderita rugi dan juga tidak memperoleh laba dengan demikian dapat diketahui pada tingkat penjualan tertentu diatas break event merupakan alat untuk perencanaan laba juga merupakan alat pelaporan yang baik bagi top manajemen.
2.5.3. Metode Perhitungan Break Event Point
Dalam menghitung dan menentukan break event dapat dilakukan dengan menggunakan 2 cara atau pendekatan .
a. Pendekatan Matematis
b. Pendekatan Grafik.
c. Pendekatan Kontribusi
Data atau informasi yang perlukan dalam menghitung titik break event adalah :
1. Hasil keseluruhan penjualan atau harga jual per unit
2. Biaya variable keseluruhan atau biaya varibel per unit
3. Jumlah biaya tetap keseluruhan

Cara Menghitung BEP

Cara Menghitung BEP Usaha

cara menghitung BEP (break Event point)Cara Menghitung BEP usaha – Apa itu BEP? Bagaimana Cara Menghitung BEP sobat? Sobat hitung, ketika anda memulai usaha pastilah ada komponen pokok berupa modal. Modal itu kemudian akan anda belanjakan (peraltan, mesin, tenaga kerja) untuk menghasilkan pendapatan. Dalam ilmu akuntansi dikenal namanya Break Event Point (BEP). BEP merupakan titik dimana pendapatan dari usaha sama dengan modal yang anda keluarkan.
Total Revenue (TR) = Total Cost (TC)
Kapan titik itu tercapai? Tercapainya BEP bisa terjadi ketika kita sudah mennghasilkan sekian penghasilan atau ketika kita sudah menjual s produk dalam jumlah tertentu.
Jenis Break Event Point (BEP)
  1. BEP Unit : titik pulang pokok (BEP) yang dinyatakan dalam jumlah penjualan produk di nilai tertentu.
  2. BEP Rupiah : BEP atau titik pulang pokok yang dinyatakan dalam jumlah penjualan atau harga penjualan (P) tertentu.
Rumus/Cara Menghitung BEP
1. BEP Unit           = (Biaya Tetap) / (Harga per unit – Biaya Variable per Unit)
2. BEP Rupiah   = (Biaya Tetap) / (Kontribusi Margin per unit / Harga per Unit)
Keterangan
a) BEP Unit / Rupiah =  BEP dalam unit (Q) dan BEP dalam Rupiah (P)
b) Biaya Tetap = biaya yang jumlahnya tetap walaupun usaha anda tidak sedang berproduksi.
c) Biaya Variable = biaya yang jumlahnya meningkat sejalan  peningkatan jumlah produksi seperti bahan baku, bahan baku pembantu, listrik, bahan bakar, dan lain-lain
d) Harga per unit = harga jual barang atau jasa perunit yang dihasilkan.
e) Biaya Variable per unit = total biaya variable perunit (TVC/Q)
f) Margin Kontribusi per unit = harga jual per unit -biaya variable per unit (selisih)
untuk lebih memahami bagaimana cara menghitung BEP, mari kita pakai contoh berikut:
UD Makmur Selalu pada tahun 2012 memiliki data-data biaya dan rencana produksi seperti berikut ini :
1) Biaya Tetap sebulan adalah sebesar Rp.150juta yaitu terdiri dari :
Biaya Gaji Pegawai                               = Rp.75,000,000
Biaya Gaji Pemilik                                = Rp.10.000.000
Biaya Penyusutan Mobil Kijang     = Rp. 1,500,000
Biaya Asuransi Kesehatan                = Rp.15,000,000
Biaya Sewa Gedung Kantor               = Rp.18,500,000
Biaya Sewa Pabrik                                 = Rp.30,000,000
2) Biaya Variable per Unit Rp. 75,000.00 yaitu terdiri dari :
Biaya Bahan Baku                               = Rp.35,000
Biaya Tenaga Kerja Langsung       = Rp.15,000
Biaya Listrik dan Air                         = Rp.10,000
Biaya Lain                                              = Rp.15,000
3) Harga Jual per Unit Rp.100,000.
Cara Menghitung BEP dalam Rupiahnya
= Biaya Tetap / (Kontribusi Margin per unit : Harga per unit)
= Rp.150 juta / (Rp.25,000* : Rp. 100,000)
*100,000-75,000
= Rp.150juta  / 0.25
= Rp.600,000,000
Cara Menghitung BEP dalam Unit
= Biaya Tetap / (harga per unit – biaya variable per unit)
= Rp.150juta / (Rp.100,000 – Rp.75,000)
= Rp.150juta / Rp.25,000
= 6,000 unit
Jadi, BEP tercapai ketika Penjualan Mencapai 6.000 unit atau penjualan mencapai nilai 600 juta. Itulah tadi cara menghitung BEP Usaha secara sederhana. Titik BEP ini bisa bergeser karena terjadi
1.  Perubahan harga jual per unit
2.  Perubahan biaya variabel
3.  Perubahan biaya tetap
4.  Perubahan komposisi sales mix
Penelusuran Terkati cara menghitung bep, rumus bep, cara mencari bep, cara membuat break even point, cara menghitung bep usaha, cara menghitung bep perusahaan jasa, cara menghitung bep perusaan riil, cara menghitung bep dengan excel

Analisis Break Event Point


Banner Flash 468x60 by KumpulBlogger.com

Analisis Break Event Point (Break Even Analysis) : Definisi, Manfaat, Asumsi Dasar dan Dampak Perubahan dari Beberapa Faktor dalam Analisa Break Even Point

Posted by admin
Definisi Break Even Point

Pengertian analisa break even menurut Sigit (1993, p. 2) adalah suatu cara atau suatu teknik yang digunakan oleh seorang petugas atau manajer perusahaan untuk mengetahui pada volume (jumlah) penjualan dan volume produksi berapakah perusahaan yang bersangkutan tidak menderita kerugian dan tidak pula memperoleh laba.

Definisi analisa break even menurut Schmidgall, Hayes, dan Ninemeier (2002) adalah, “Break even analysis is a management tool that can help restaurant managers examine the relationship between various costs, revenues and sales volume. It allows to determine revenue required at any desired profit level that called Cost-Volume-Profit (CVP) analysis” (p. 169). yang kurang lebih memiliki arti : analisa titik impas adalah suatu alat manajemen yang dapat membantu manajer restoran untuk melihat hubungan antara bermacam-macam biaya, pendapatan dan volume penjualan. Melalui analisa titik impas, manajer juga dapat menentukan jumlah pendapatan yang diperlukan pada suatu tingkat pencapaian laba yang diinginkan yang juga biasa disebut Analisis Biaya-Volume-Laba .

Menurut Mulyadi (1993, 230) Analisa break even adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba yang dengan kata lain labanya sama dengan nol.

Menurut Matz, Usry, dan Hammer (1991, p. 202), Analisa break even merupakan suatu analisa yang digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi dalam periode tersebut dapat tertutupi, yang mana analisa tersebut dapat menunjukkan suatu titik dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun menderita rugi.

Menurut Rony (1990, p. 358) Analisa break even atau disebut Analisis titik impas merupakan sarana bagi manajemen untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian.

Bambang Riyanto, dalam bukunya "Dasar-dasar pembelanjaan Perusahaan" mengemukakan pengertian Analisa Break Even sebagai berikut:
"Analisa Break Even adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Oleh karena analisa tersebut mempelajari hubungan antara biaya - keuntungan - volume, maka analisa tersebut sering juga disebut 'cost-profit volume analysis (CPV analysis)', (1982: 290)".

Manfaat Analisa Break Even Point.

Menurut Rony (1990, p. 357) analisis titik impas atau analisis Break Even Point sangat bermanfaat bagi manajemen dalam menjelaskan beberapa keputusan operasional yang penting dalam tiga cara berbeda namun tetap berkaitan yaitu:
a. Pertimbangan tentang produk baru dalam menentukan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan memperoleh laba.
b. Sebagai kerangka dasar penelitian pengaruh ekspansi terhadap tingkat operasional.
c. Membantu manajemen dalam menganalisis konsekuensi penggeseran biaya variabel menjadi biaya tetap karena otomisasi mekanisme kerja dengan peralatan yang canggih.
Matz, Usry dan Hammer (1991, p. 224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa break even untuk manajemen, yaitu :
a. Membantu pengendalian melalui anggaran.
b. Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan.
c. Menganalisa dampak perubahan volume.
d. Menganalisa harga jual dan dampak perubahan biaya.
e. Merundingkan upah.
f. Manganalisa bauran produk.
g. Manerima keputusan kapitalisasi dan ekspansi lanjutan.
h. Menganalisa margin of safety.

Sedangkan menurut Sigit (1993, p. 1) analisa Break Even Point mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah :
a. Sebagai dasar merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu.
b. Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan.
c. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual.
d. Sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan

Asumsi-Asumsi Dasar Analisa Break Even Point :
Beberapa asumsi yang berpengaruh dalam analisa break even menurut Mulyadi (1993, p. 259) adalah sebagai berikut :
a. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan.
b. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan.
c. Kapasitas produksi pabrik dianggap secara relative konstan.
d. Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah.
e. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah.
f. Perubahan jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan.
g. Komposisi produk yang dijual dianggap tidak berubah.
h. Volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya

Dampak Perubahan dari Beberapa Faktor dalam Analisa Break Even Point Menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Manajemen (1993, 259):
a. Suatu perubahan dalam biaya variabel akan mengakibatkan perubahan dalam contribution margin dan impas.
b. Suatu perubahan dalam harga jual akan mengakibatkan perubahan pada contribution margin dan impas.
c. Angka laba kontribusi hanya akan dipengaruhi oleh perubahan pada biaya variabel dan harga jual.
d. Suatu perubahan dalam biaya tetap mengakibatkan perubahan pada impas tapi tidak mempengaruhi laba kontribusi.
e. Suatu perubahan gabungan dalam biaya tetap dan biaya variabel pada arah yang sama akan menyebabkan perubahan tajam terhadap impas.

Break Even Point

Pengertian, Definisi dan Rumus BEP / Break Even Point –

Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit.
BEP amatlah penting kalau kita membuat usaha agar kita tidak mengalami kerugian, apa itu usaha jasa atau manufaktur, diantara manfaat BEP adalah
1. alat perencanaan untuk hasilkan laba
2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
3 Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan
4 Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti
Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya BEP dalam usaha yang kita rintis, kompenen yang berperan disini yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini
Salah satu kelemahan dari BEP yang lain adalah Bahwa hanya ada satu macam barang yang diproduksi atau dijual. Jika lebih dari satu macam maka kombinasi atau komposisi penjualannya (sales mix) akan tetap konstan. Jika dilihat di jaman sekarang ini bahwa perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya mereka menciptakan banyak produk jadi sangat sulit dan ada satu asumsi lagi
yaitu Harga jual persatuan barang tidak akan berubah berapa pun jumlah satuan barang yang dijual atau tidak ada perubahan harga secara umum. Hal ini demikian pun sulit ditemukan dalam kenyataan dan prakteknya.
Bagaimana cara menghitungnya?
Dalam menyusun perhitungan BEP, kita perlu menentukan dulu 3 elemen dari rumus BEP yaitu :
1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha, perabotan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali
2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastic, biaya nota penjualan
3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli
Adapun rumus untuk menghitung Break Even Point ada 2 yaitu :
1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point :
Total Fixed Cost
__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Contoh :
Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,-
Variable cost Rp.5,000 / unit
Harga jual Rp. 10,000 / unit
Maka BEP per unitnya adalah
Rp.200,000
__________ = 40 units
10,000 – 5,000
Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi break even point. Pada pejualan unit ke 41, maka took itu mulai memperoleh keuntungan
2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :
Total Fixed Cost
__________________________________ x Harga jual / unit
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima agar terjadi BEP adalah
Rp.200,000
__________ x Rp.10,000 = Rp.400,000,-
10,000 – 5,000

ANALISIS BREAK EVEN POINT

Anlisis BEP dapat memberikan hasil yang memadai,
apabila asumsi berikut terpenuhi :
_ Perilaku penerimaan dan pengeluaran dilukiskan dengan
akurat dan bersifat sepanjang rentang yang relevan
_ Biaya dapat dipisahkan antara biaya tetap dan biaya
variabel
_ Efisiensi dan produktivitas tidak berubah
_ Harga jual tidak berubah
_ Biaya- biaya tidak berubah
_ Bauran penjualan akan konstan
_ Tidak ada perbedaan yang signifikan antara persediaan
awal dan persediaan akhir
Pendekatan dalam mengitung BEP
_ Pendekatan Persamaan
_ Pendekatan Marjin Kontribusi
_ Pendekatan Grafik
Pendekatan persamaan
_ Y=cx – bx – a
_ Y = laba
_ c = harga jual per unit
_ x = jumlah produk
_ b = biaya variabel satuan
_ a =biaya tetap total
_ cx = hasil penjualan
_ bx = biaya variabel total
_ X(BEP dalam unit) = a/(c-b)
_ CX(BEP dalam unit) = ac/(c-b) = a/(1 – b/c)
Biaya Tetap Vs Biaya Variabel
Dalam hubungannya dengan volume produksi :
(1)Biaya Variabel
Karakteristik :
_ biaya berubah total sebanding perubahan tingkat aktivitas
_ Biaya satuan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan (biaya
satuan konstan)
Contoh dalam perusahan furniture
_ Biaya perlengkapan
_ Biaya bahan bakar
_ Biaya sumber tenaga
_ Biaya perkakas kecil
_ Asuransi aktiva tetap dan kewajiban
_ Gaji satpam dan pesuruh pabri
Dalam hubungannya dengan volume produksi :
(2)Biaya Tetap
Karakteristik :
_ Totalitas tidak berubah terhadap perubahan tingkat aktivitas
_ Biaya satuan berbanding terbalik terhadap perubahan volume kegiatan
Contoh dalam perusahan furniture
_ Biaya penyusutan
_ Gaji eksekutif
_ Pajak bumi dan bangunan
_ Amortisasi paten
_ Biaya penerimaan barang
_ Biaya komunikasi
_ Upah lembur
Dengan metoda
1. Pendekatan Persamaan
2. Pendekatan Marjin Kontribusi
3. Pendekatan Grafik
Pendekatan Margin Kontribusi
_ Mengurangkan nilai penjualan total (total revenue =TR) dengan biaya
variabel total (total Variabel cost = TVC)
_ Mengurangkan harga jual per unit dengan biaya variabel per unit guna
menghitung margin kontribusi per unit.
Pada Kasus CV. Donut Kotak
Harga Jual per unit Rp. 5.000
Biaya variabel Per Unit Rp. 3.000
Margin kontribusi Rp. 2.000
BEP(unit) = (Biaya tetap Total : Margin kontribusi per unit)
BEP(unit) = 7.500.000/2.000 = 3.750 unit
_ BEP (rupiah)
Terlebih dahulu harus dihitung Rasio Margin Kontribusi
_ Harga penjualan per unit Rp. 5.000,- 100 %
_ Biaya Variabel per unit Rp. 3.000,- 60 %
_ Margin kontribusi Rp. 2.000,- 40 %
Ratio margin kontribusi = 0,40
BEP (rupiah)= (Biaya tetap Total : Rasio Margin kontribusi)
= Rp. 7.500.000/0,40
= Rp. 18.750.000,-


About these ads

TUGAS EKONOMI : BREAK EVEN POINT

Pengertian : Analisis Titik Impas (Break even Point), Analisis Sensitivitas (Sensitivity Analysis) & Beserta Contohnya


A.Pengertian Break even Point
           Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya). Sebelum memproduksi suatu produk, perusahaan terlebih dulu merencanakan seberapa besar laba yang diinginkan. Ketika menjalankan usaha maka tentunya akan mengeluarkan biaya produksi, maka dengan analisis titik impas dapat diketahui pada waktu dan tingkat harga berapa penjualan yang dilakukan tidak menjadikan usaha tersebut rugi dan mampu menetapkan penjualan dengan harga yang bersaing pula tanpa melupakan laba yang diinginkan. Hal tersebut dikarenakan biaya produksi sangat berpengaruh terhadap harga jual dan begitu pula sebaliknya, sehingga dengan penentuan titik impas tersebut dapat diketahui jumlah barang dan harga yang pada penjualan. Analisis break even sering digunakan dalam hal yang lain misalnya dalam analisis laporan keuangan. Dalam analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus ini untuk mengetahui:
1.      Hubungan antara penjualan, biaya, dan laba
2.      Struktur biaya tetap dan variable
3.      Kemampuan perusahaan memberikan margin unutk menutupi biaya tetap
4.      Kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi
Selanjutnya, dengan adanya analisis titik impas tersebut akan sangat membantu manajer dalam perencanaan keuangan, penjualan dan produksi, sehingga manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian, memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang diharapkan melalui penentuan
·         harga jual persatuan,
·         produksi minimal,
·         pendesainan produk, dan lainnya
Dalam penentuan titik impas  perlu diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini agar titik impas dapat ditentukan dengan tepat, yaitu:
·         Tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode
·         Kapasitas produksi yang tersedia, atau yang mungkin dapat ditingkatkan
·         Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun biaya variable.
B.Penjelasan break even point
           Teknik break even poin analysis atau cost volume profit analysis sering digunakan dalam menganalisis keuangan perusahaan. Model ini mencoba mencari dan menganalisis aspek hubungan antara besarnya investasi dan besarnya volume rupiah yang diperlukan untuk mencapai tingkat laba tertentu.
           Dalam perusahaan peranan penjualan sudah jelas yaitu sebagai “generating income” yaitu sumber pembentukan laba. Kita menginginkan agar penjualan dapat menutupi biaya total yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variable.
           Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak dipengaruhi oleh volume kegiatan. Beroperasi atau tidak, biaya ini harus dikeluarkan, misalnya biaya penyusutan, biaya sewa, biaya gaji, dan lain lain. Sebaliknya semakin banyak volume kegiatan atau produksi semakin rendah biaya per unit biaya variable adalah biaya yang jumlahnya tergantung pada volume kegiatan. Jika ada kegiatan pasti ada biaya variable ini. Semakin banyak volume kegiatan maka semakin banyak biaya variable. Namun biaya per unit relative sama. Misalnya biaya bahan, gaji tenaga kerja langsung, komisi penjualan, dll. Pengetahuan terhadap biaya inisangat penting dalam melakukan analisis break even.
           Break even berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya( biaya tetap dan biaya variable) sama dengan total penjualan, sehingga tidak terjadi laba dan juga kerugian.
C.Rumus BEP
            Pengetahuan akan angka break even ini sangatlah penting dalam melakukan analisis keuangan, maupun dalam perencanaan laba dan pengambilan keputusan. Perhitungan break even inidapat dijelaskan melalui contoh sebagai berikut:
            Misalkan biaya tetap(fixed cost) Rp 40.000,-, biaya ini dikeluarkan kendatipun tidak ada penjualan. Biaya variable Rp 1,2 per unit artinya berap unit yang dijual biaya variabelnya dikalikan Rp 1,2. Bertambah besar volume penjualan bertambah besar pula biaya variable. Penjualan per unit dimisalkan Rp 2.
           
Dari data ini dapat kita cari break even sebagai berikut:
Penjualan adalah harga x Volume (unit)
Sales    = Price x Quantity
S          = P . Q
S          =Rp 2 . Q
P menggambarkan harga per unit, Q menggambarkan volume penjualan dalam unit, sedangkan S menggambarkan nilai total penjualan (sales).
Total biaya adalah biaya tetap + biaya variable
TC        = FC + VC
Jika FC = Rp 40.000,- maka :
TC        = 40.000+ 1,2.Q
Dari rumusan ini kita dapat membuat rumus break even.
a.      Rumus break even point
Kalau kita ingin mengetahui total cost atau total penerimaan dari penjualan maka yang diperlukan hanya volume penjualan dalam unit (Q). setiap jumlah Q akan kita dapat menghitung sales,total cost, dan juga laba/rugi.
Namun dalam BEP yang menjadi pegangan bagi kita adalah titik dimana perusahaan tidak mengalami laba dan tidak mengalami rugi atau istilah lainnya titik IMPAS.
Titik impas ini terjadi apabila:
TR (Sales)        = P. Q
TC                    = FC + VC
Jadi pada titik break even:
Harga x Kuantitas Penjualan  =          biaya tetap + biaya variable
P . Q                                        =          FC+ VC
P .Q                                         =          FC + (V . Q )
(P. Q) – (V. Q)                         =          FC
Q (P-V)                                                =          FC
V= harga variable cost per unit
Jadi :
Q= FC / (P-V)
Dalam rumus dan contoh di atas maka break even dapat kita hitung sebagai berikut:
Q      =  =
Q       = 50.000  
b.      Metode sederhana
Dari hasil perhitungan ini dapat diketahui bahwa jumlah yang harus dijual kalau perusahaan berada pada titik impas (break even) adalah 50.000 unit.
Perhitungan dengan cara lain dapat dilihat dari table sebagai berikut:
Harga penjualan adalah Rp 2/unit.
Biaya variable Rp 1,2
Biaya tetap Rp 40.000,-
Jumlah unit
1
Harga penjualan
2(1x2)
Biaya Tetap
3
Biaya variable
4.(1x1,2)
Total Biaya
5(3x4)
Laba
6(2-5)
30.000
60.000
40.000
36.000
76.000
(16.000)
40.000
80.000
40.000
48.000
88.000
(8.000)
50.000
100.000
40.000
60.000
100.000
Break even
60.000
120.000
40.000
72.000
112.000
8.000
70.000
140.000
40.000
84.000
124.000
16.000
100.000
200.000
40.000
120.000
160.000
40.000
 Dari table ini dapat dilihat bahwa titik break even adalah pada jumlah volume penjualan sebesar 50.000 unit.
Ini berarti bahwa apabila penjualan perusahaan 50.000 unit maka perusahaan berada dalam posisi tidak mendapat laba dan tidak mengalami rugi. Oleh karena itu kalau ingin beruntung maka usahakan agar penjualan di atas break even tersebut.
D.  Kegunaan Lain dari BEP
Break even analysis sangat bermanfaat dalam mengetahui hubungan antar cost, volume, harga, dan laba. Misalnya kita ingin mencapai laba tertentu maka kita akan dapat mengetahui berapa unit barang yang harus kita jual.
Apabila misalnya dalam contoh diatas kita ingin laba Rp 8.000,- maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Pertama jika tidak ada laba rumusnya:
P x Q         = FC + VC
Kalau kita ingin laba Rp 8.000,- maka rumusnya :
P x Q         = FC + VC + 8.000
2 Q            = 40.000+ 1,2 Q+ 8.000
0,8Q          =48.000
Q               = 60.000 unit.
Untuk mendapatkan laba sebesar Rp 8.000,- maka kita harus dapat menjual 60.000 unit atau volume penjualan harus Rp 120.000,-. Rumus ini bisa juga dipakai dengan harga per unit, dengan menggunakan rumus tersebut di atas.
Misalnya kita ingin mendapat laba sebesar Rp 8.000,- tapi menurut manajer penjualan kita hanya dapat menargetkan penjulaan sebanyak 50.000 unit saja. Jadi berapa harga per unit yang dapat kita jual (agar keuntungan sebesar Rp 8.000 dengan penjualan sebanyak 50.000 unit) ?
Untuk itu gunakan kembali rumusan yang sebelumnya:
P.Q           = FC + VC+ 8.000
P. 50.000 = 40.000+ 0,8(50.000) +8.000
50.000 P  = 8.000
P               = 1,76
Jadi jika kita ambil laba Rp 8.000 dan jumlah unit yang dijual hanya 50.000 unit, maka harga yang dapat kita ambil adalah sebesar Rp 1,76. Kalau P= 1,76 maka laba dapat dihitung sebagai berikut:
Sales (TR)  50.000 x 1,76                                                                                 = Rp 88.000,-
Biaya:
Biaya tetap                                                                                   = Rp 40.000,-
Biaya variable    50.000 x 0,8                                                     = Rp 40.000,-
Total biaya                                                                                                       = Rp 80.000,-
Laba                                                                                                                  = Rp 8.000,-
E. Kelemahan Penggunaan BEP
Dalam pemakaian analisis ini kita harus menyadari keterbatasan yang dikandung model ini. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini kadang-kadang harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan penwaran di pasar. Untuk menutupi kelemahan itu, maka harus dibuat analisis sensitivitas untuk harga jual yang berbeda.
2.      Asumsi terhadap cost
Penggolongan biaya tetap dan biaya variable juga mengandung kelemahan. Dalam keadaan tertentu untuk memenuhi volume penjualan , biaya tetap mau tidak mau harus berubah karena pembelian mesin-mesin atau peralatan baru guna meningkatkan volume produksi untuk penjualan. Begitu pula pada perhitungan biaya variable per unit mengalami perubahan karena pada saat tertentu dapat terjadi kenaikan harga bahan baku sehingga menaikkan biaya produksi perusahaan.
3.      Jenis barang yang dijual tidak selalu satu jenis
4.      Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas
5.      Biaya variable juga tidak selalu berubah sejajar dengan perubahan volume penjualan.
Namun begitu,asumsi-asumsi terhadap analisis titik impas seperti asumsi terhadap biaya yang dianggap tetap, kapasitas produksi serta tingkat penjualan dengan jumlah dan harga yang juga diasumsikan tetap, maupun biaya variable yang disumsikan berubah sebanding dengan perubahan volume penjualan perlu dilakukan karena untuk dapat membuat suatu model analisis mau tidak mau perlu adanya asumsi yang mendasari perhitungan tersebut, agar perhitungan yang dilakukan dapat menghasilkan hal-hal yang ingin kita prediksi. Kelemahan-kelemahan yang terjadi merupakan resiko dari prediksi yang dilakukan sehingga dalam pengambilan keputusan melalui analisis titik impas tetap perlu adanya kehati-hatian dari manajer guna menghindari kesalahan yang berakibat pada kerugian usaha.

Sabtu, 26 Oktober 2013

MITOLOGI

Machu Picchu, Misteri Kota Yang Hilang

Sejarah
Sejarah - Sejak awal tahun1900-an, nama Machu Picchu (sebuah kawasan di pengunungan Andes, Peru, Amerika Selatan) sudah terkenal. Kawasan ini mulai dibangun oleh bangsa Inca sekitar 14.000 SM.

Anehnya, kota ini  hanya dihuni selama kurang dari 100th saja dan didiami oleh sekitar 1200 orang. Sesudah itu Machu Picchu  menjadi kota hilang dan hanya meninggalkan jejak mitos dan kabar burung belaka.

Machu Picchu bukan kota biasa. banyak teori bermunculan yang mendeskripsikan kota ini. Beberapa peneliti percaya Machu Picchu adalah makam 'Pachacutec', karena terdapat bangunan-bangunan yang dilapisi emas.
Beberapa teori lain  berteori Machu Picchu adalah 'lacta' atau kota untuk mengontrol ekonomi daerah-daerah taklukan dan melindungi bangsawan Inca.
Teori lannya adalah Machu Picchu sebagai 'vila' para pembesar Inca, sekaligus sebagai tempat upacara pengamatan musim dan astrologi. Tersembunyi di balik bukit dan dikelilingi jurang-jurang curam menjadikan Machu Picchu terlindung dari dunia luar.
Karena sebab inilah banyak yang menyebut Machu Picchu sebagai "kota siluman". Banyak pemburu harta karun yang meyakini kota ini menyimpan kekayaan yang tak ternilai.
Namun pencarian mereka sia-sia. Sampai akhirnya pada tahun 1911, seorang arkeolog bernama Hiram bingham menemukan kembali kota yang hilang itu.
Faktanya, Machu Picchu ditinggalkan Inca ketika Spanyol memasuki daratan Amerika Selatan. Namun tidak jelas alasan mengapa bangsa Inca meninggalkan Machu Picchu ditengah kejayaannya.

Dugaan para ahli, wabah cacarlah yang menyebabkan Machu Picchu ditinggalkan. Lebih dari 50% populasinya terbunuh akibat wabah itu pada tahun 1527.

Pemerintahan Inca pun jatuh, perang bersudara bekecamuk. Ketika penakluk Spanyol, Pizzaro, tiba di Cuzco, ibukota bangsa Inca yang terletak hanya 112km dari Machu Picchu, pada tahun 1532, Machu Picchu sudah menjadi kota hantu di atas awan.

TUGAS SENI BUDAYA


BATIK NUSANTARA


Batik Kalimantan

Selama ini yang terkenal hanyalah motif Batik dari pulau Jawa. padahal Kalimantan juga memiliki motif yang tak kalah menarik dan khas. Bila kain Batik Kalimatan Selatan terkenal dengan nama kain Sasirangan, kain batik Kalimantan Tengah terkenal dengan nama Batik Benang Bintik-nya. 
Motifnya pun variatif dengan warna-warna yang memanjakan selera. Motif yang umum adalah Batang Garing (simbol batang kehidupan bagi masyarakat Dayak), Mandau (senjata khas suku Dayak), Burung Enggang/Tingang (Elang Kalimantan), dan Balanga. Warnanya lebih berani seperti shocking pink, hijau stabilo, merah terang, oranye, dan masih banyak lagi.






Batik Benang Bintik 
Batik Sasirangan 
 
 
 
Contoh fungsi Terapan dalam penggunaan batik kalimantan 

Contoh Batik Kalimantan Modern

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

 

 

 

BATIK TORAJA

 

 

Riwayat Batik Toraja
Pada umumnya orang berpendapat bahwa batik merupakan budaya tradisional Jawa.Namun  menurut Danar hadi,seorang kurator pada museum batik kuno yang mengatakan bahwa batik dikenal sejak abad V di Tanah Pasundan dan Tana Toraja.
Heingga ( 1996) berpendapat bahwa konon batik diperkenalkan oleh orang India pada saat Raja Lembu Amiluhur menihkahkan putranya dengan puteri India sekitar tahun 700. Dalam bagian lainnya, disebut kalau batik dalam bentuk yang lebih primitif justru sudah dimiliki oleh orang Toraja (Tana Toraja, Sulawesi Selatan). Kata “batik” sendiri baru secara tertulis ditemukan pada tahun 1641 dalam dokumen pengiriman barang dari Batavia (Jakarta) ke Bengkulu, sedangkan menurut pakar batik Belanda, Rouffaer (1914), referensi pertama tentang batik ini merujuk ke tahun 1520 (Gittinger, 1985).
Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi dalam membuat batik
Dalam  Kompas yang menuliskan bahwa cikal bakal batik dapat ditelusuri dari Banten dan kain Ma’a dari Toraja ,Sulawesi Selatan yang memakai bubur nasi sebagai perintang warna.Namun karena posisi geografis di Toraja yang terisolasi di pegunungan, maka menurut para ahli, hal inilah yang membuat batik Toraja tidak terlalu me-nasional .Tak seperti batik Jawa yang diduga diperkenalkan pada zaman Raja Lembu Amiluhur ( Jenggala). Hal ini memunculkan teori bahwa boleh jadi Indonesia juga melahiran batik pertama yang berawal dari daerah Toraja sendiri.
Warna khas batik Toraja sendiri adalah hitam,merah,putih dan kuning. Untuk warna kombinasi setelah kain dicap kemudian di celup dengan pewarna dan selanjutnya beberapa garis motif ditutup dengan warna yang berbeda.
Batik Motif Toraja,dok:Pribadi
Kiat Melestarikan Batik di Indonesia khususnya Batik Toraja
Terkadang muncul keprihatinan dari berbagai pihak yang khawatir tradisi batik ini bisa tetap bertahan ditengah gempurnya budaya asing yang menggrogoti Indonesia. Di sisi lain, Ada pula yang mencari cara agar batik bisa dilestarikan dan takkan punah dimakan zaman. Adapun berbagai cara yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk bisa menjaga kelestarian budaya ini diantaranya:
1.Pemerintah bersama masyarakat bekerja sama dalam melakukan pengenalan mengenai batik misalnya melalui workshop,seminar,pameran mengenai seluk beluk dan jenis batik yang ada di nusantara
2.Pendirian museum batik yang bisa memperkenalkan,menjaga dan melindungi segala macam jenis batik sehingga nantinya museum ini bisa menjadi referensi budaya dimana dalam batik mentransmisikan sejarah,makna simbolis,tradisi sehingga nantinya bisa dikenal dan dilestarikan masyarakat
3.Mengadakan kursus keterampilan mengenai cara membuat batik. Hal ini dilakukan agar generasi muda bisa memiliki keahlian dalam membuat batik dan tidak hanya dijadikan sekedar gaya pendidikan belaka melainkan sebagai gaya hidup dan pengabdian dalam pelestarian budaya asli Indonesia.
4.Memperbanyak buku dan artikel yang bisa diakses secara online ( e-book) mengenai  segala hal mengenai batik sehingga bisa dijadikan sebagai referensi nantinya.
5. Memodernisasi corak batik Toraja  kemudian dituangkan dalam tren busana  dan aksesoris kaum muda misalnya saja topi, baju,celana, gelang,kalung dan masih banyak lagi. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan keinginan kawula muda yang selalu ingin tampil trendy dan modis tanpa meninggalkan tradisi budaya Indonesia. Cara memasarkannya pun cukup mudah yaitu dengan mendirikan toko batik yang khusus menjual aksesoris ini.Apalagi jika pemasarannya  berkonsep butik online dimana dilakukan pemamfaatan media sosial internet seperti facebook,twitter,blog sehingga secara tidak langsung kita membuat suatu toko butik online. Hal inipun disesuaikan dengan kebiasaan anak muda zaman sekarang yang lebih suka memesan barang via online.
Dengan adanya pemasaran dan penjualan melalui butik batik dan toko batik online batik seperti kehadiran BERBATIK.COM , maka kegiatan ini mampu memasyarakatkan batik terutama dikalangan anak muda dalam melakukan aktivitas belanja aneka aksesoris batik dan juga bisa menjadi penopang dan penggerak kegiatan ekonomi rakyat dalam bidang industri yang  mampu menyerap banyak tenaga kerja yang mempengaruhi perekonomian bangsa Indonesia
Demikianlah sedikit kisah mengenai seluk beluk batik yang ada di Indonesia terutama mengenai batik Toraja yang selama ini termarginalkan. Sangat diharapkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan tradisi ini. Peran pemuda juga tak kalah penting dalam menjaga dan mengapresiasi budaya  ini agar kedepannya tradisi ini takkan pudar dihabisi oleh zaman.
Contoh Batk Toraja modern (JIBI)